RESENSI Rengganis Nganiapury Zaafarani: SLOW LIVING

 RESENSI BUKU : SLOW LIVING



IDENTITAS BUKU

a. Judul Buku: Slow Living: Hidup Bukanlah Pelarian, tapi Perjalanan

b. Pengarang: Sabrina Ara

c. Penerbit: Syalmahat Publishing

d. Tahun Terbit: 2026

e. Kota Terbit: Sendangmulyo - Semarang

f. Jumlah Halaman: viii + 116 halaman

g. ISBN: 978-623-5269-28-3

PENDAHULUAN

Di tengah peradaban modern yang serba cepat, manusia sering kali merasa harus mengejar segala

pencapaian mulai dari karier, materi, hingga status sosial demi memenuhi label kesuksesan yang diukur oleh

standar orang lain. Akibatnya, banyak orang berlari tanpa henti hingga mengorbankan kesehatan mental dan


fisik, serta memicu fenomena time poverty atau rasa kehabisan waktu. Buku non-fiksi pengembangan diri (self-

improvement) karya Sabrina Ara ini dipilih untuk diresensi karena memberikan sudut pandang yang


menyegarkan tentang pentingnya melambatkan ritme hidup, berdamai dengan diri sendiri, dan menikmati

setiap proses kehidupan tanpa harus terjebak dalam obsesi kesibukan yang melelahkan.

ISI RESENSI

a. Ringkasan Isi Buku

Buku ini terbagi ke dalam delapan bab utama yang membedah akar permasalahan budaya serba cepat (fast

living) serta solusi praktis untuk beralih ke gaya hidup slow living. Pada Bab 1 hingga Bab 2, penulis

membahas bagaimana masyarakat kerap mengglorifikasi kesibukan dan terjebak dalam distraksi digital seperti

FOMO, FOBO, serta nomophobia. Bab 3 sampai Bab 5 mengenalkan konsep dasar slow living yang

dipadukan dengan filosofi Stoikisme (dikotomi kendali) serta cara berdamai dengan ekspektasi sosial,

kegagalan, dan kenyataan hidup yang "belum sempurna". Selanjutnya, Bab 6 hingga Bab 8 mengajak

pembaca untuk berani mengambil jeda (pause), melangkah setahap demi setahap, dan menerapkan 13

langkah praktis slow living dalam keseharian mulai dari membuat to-do list yang realistis, mengurangi media

sosial, hingga belajar merasa cukup.

b. Analisis dan Ulasan

Keunggulan buku ini terletak pada gaya penyampaiannya yang hangat, membumi, dan sangat relevan dengan

keresahan generasi muda di era digital. Penulis tidak hanya memberikan teori, tetapi juga menyertakan kolom

refleksi atau latihan self-talk di setiap akhir bab yang sangat interaktif bagi pembaca. Selain itu, buku ini

diperkaya dengan kutipan-kutipan bijak dari tokoh terkenal serta referensi literatur psikologi dan filsafat.

Kekurangan dari buku ini mungkin terletak pada ukuran fisiknya yang cukup ringkas sehingga beberapa

pembahasan filosofis terasa dibahas secara padat dan ringkas, namun hal tersebut justru membuatnya lebih

mudah dipahami oleh pembaca pemula di bidang pengembangan diri.

c. Kutipan Penting


“Jangan menyiksa, sayangilah dirimu. Bergerak cepat di lintasan yang tidak cocok untukmu justru bisa

berbahaya, bukan? Cobalah melambat, karena hidup adalah perjalanan, bukan pelarian.”

PENUTUP

Buku "Slow Living: Hidup Bukanlah Pelarian, tapi Perjalanan" sangat layak dibaca oleh siapa saja, terutama

para pelajar, mahasiswa, pekerja, maupun masyarakat umum yang sering merasa kewalahan, lelah, atau

cemas akibat tekanan hidup yang serba cepat. Buku ini menuntun pembaca untuk menyadari bahwa hidup

bukanlah perlombaan, melainkan sebuah perjalanan bermakna yang harus dinikmati dengan penuh kesadaran

dan rasa syukur.

IDENTITAS PENULIS RESENSI

a. Nama lengkap: Rengganis Nganiapury Zaafarani

b. Nama sekolah dan Kelas: SMA Martia Bhakti

c. Nomor telepon/HP: 082110150404

d. Alamat email: rn.zaafarany27@gmail.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI DWI ANDHIKA MUHARRAM RIFA'I (FREE YOURSELF)

RESENSI RAFI ATHA (SUDAH CUKUP MAIN-MAINNYA)

RESENSI NAZWA SHYFA (Letting Go, Letting Grow : Sebuah Seni untuk Melepaskan)